Siapakah Donald Trump? Richard Gunderman, seorang profesor di Indiana University menulis di Psychology Today dan ia menganalisis tentang fenomena Donald Trump. Trump yakni seorang laki- laki yang telah memberi tahu kebangkrutan kesekian kali dan aset yang ia terima di bawah kinerja dana indeks, banyak yang menganggapnya sebagai jenius bisnis.

Dituduh dalam 91 tuduhan, banyak yang melihatnya sebagai kandidat hukum dan ketertiban yang akhirnya hendak mengamankan perbatasan negara. Seorang pelakon perselingkuhan yang telah membayar uang diam kepada pasangan seksualnya, ia diterima dengan baik oleh banyak orang Kristen evangelis. Dan meski banyak yang memandang dalam kata- katanya pada 6 Januari 2021 sebagai seruan buat pemberontakan, dia dikala ini yakni calon presiden dari Partai Republik yang dikira kuat. Dia unggul dari Presiden petahana Joe Biden dalam banyak jajak pendapat.

” Disaat Kalian pikir Trump sudah terpuruk, dia kembali dengan semangat baru. Saya memiliki teman dan rekan kerja yang memandang dalam Trump kenyataan jika dunia, maupun sangat tidak sebagian besar dari itu, telah betul- betul edan. Namun, mereka yang bingung dan gusar perlu mengkaji kembali lanskap politik Amerika dari sudut pandang yang berbeda,” tulis Richard Gunderman. Tipe kunci tidak lagi Republikan dan Demokrat, liberal dan konservatif, maupun progresif pemerintahan besar dan libertarian pemerintahan kecil.” Sebaliknya, tropa- tropa berarti ialah Apollonian dan Dionysian. Mereka tidak menarangkan segalanya, tetapi mereka menarangkan banyak Mengenai.”

Berasal dari mitologi Yunani, Apollo dan Dionysus ialah dewa yang mewakili aspek yang bertentangan dari psikologi manusia. Semacam yang dibesarkan dalam The Birth of Tragedy karya Friedrich Nietzsche, Apollo ialah dewa matahari, yang melambangkan ilham, ketertiban, dan logika. Tentu saja, program Apollo NASA mendaratkan seorang manusia di bulan dan membawanya kembali dengan selamat ke Bumi.

Dionysus, sebaliknya, ialah dewa anggur dan mewakili emosi, irasionalitas, dan terlebih kekacauan. Dalam budaya Yunani, simbolnya ialah satir, bentuk fauna yang sering ditafsirkan sebagai penari mabuk dengan peralatan kelamin yang ereksi.

Sangat tidak, Biden memainkan peran Apollonian dibandingkan dengan Trump. Sehabis menghabiskan seluruh hidup dewasanya dalam politik, dia mewakili pendirian politik, dengan tradisi yang agung mengenai gimana seorang politisi sepatutnya berperilaku dan apa yang sepatutnya dan tidak sepatutnya mereka katakan.

Berbeda dengan Trump, Biden sering ditafsirkan sebagai terkendali, terukur, dan bertanggung jawab. Dia sering diucap sebagai orang berumur di ruangan itu yang bermain sesuai syarat dan tetap pada naskah.

Buat memandang seorang Trump, Kalian dapat mengingat kembali debat presiden dini tahun 2020, kala dia berulang kali menginterupsi dan menyerang lawannya. Kata seorang anggota kongres Demokrat sehabis selesainya,” Dia luar biasa. Semacam berdebat dengan gorila mabuk yang lagi edan.”

Debat begitu kacau sehingga pada satu titik, terlebih Biden yang Apollonian bertanya dengan gusar,” Bisakah Kalian diam, manusia?” Sebagai bentuk Dionysian, kekuatan Trump tidak berasal dari menjajaki syarat, menghormati tradisi, dan mempertahankan ketertiban tetapi dari melampaui batas dan menghasut kemarahan.

Dalam zona politik yang sejahtera, bentuk Dionysian tidak berpeluang. Tetapi kala banyak yang merasa jika negara ini bergerak dalam arah yang salah dan pemerintah federal serta institusi- institusi agung yang lain gagal buat memperbaiki jalannya, seorang pengacau memiliki tenaga tarik yang nyata.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *